Demokrasi diakui sebagai sistem
pemerintahan terbaik dan paling sesuai dengan keadaan saat ini. Sistem yang
mengutamakan kebebasan dan prularisme. Mungkin memang benar demokrasi ini
adalah sistem terbaik, the best among the worst (terbaik di antara yang
terburuk). Demokrasi dengan jargonnya yaitu dari rakyat-oleh rakyat-untuk
rakyat, menjadikan manusia (rakyat) sebagai pembuat aturan melalui wakil-wakil
rakyat. Walaupun pada kenyataannya, para penguasa-lah yang berkuasa, bukan
rakyat.
Terbukti dengan berbagai kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintah yang tidak pernah memihak pada kesejahteraan
rakyat. Bukti terdekatnya adalah rencana pemerintah yang tidak lama lagi akan menaikkan
harga BBM. Dengan alasan ini dan itu, pemerintah tetap bersikukuh untuk
menaikkan harga BBM walaupun penolakan demi penolakan dari rakyat terus
bergulir. Beginilah demokrasi, tidak berpihak pada rakyat tapi berpihak pada
penguasa.
Hal ini dikarenakan adanya liberalisasi
migas yang berlaku di negeri ini. Berbagai sumber daya alam melimpah yang
dimiliki Indonesia saat ini nyatanya tengah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan
swasta dan asing. Inilah salah satu dampak dari kebebasan kepemilikan yang
dianut oleh demokrasi. Begitu pula dengan banyaknya kasus yang menimpa remaja
generasi bangsa seperti tawuran,
freesex, narkoba, HIV/AIDS, dan aborsi itu semua pun adalah dampak dari
kebebasan yang dianut demokrasi, yaitu kebebasan bertingkah laku. Jadi secara
tidak langsung, demokrasi adalah sebab mengapa saat ini semakin banyak rakyat
miskin dan sebab mengapa remaja sebagai generasi penerus estafet bangsa mengalami keterpurukan
yang amat sangat.




