[puisi] Refleksi Kehidupan

Minggu, 28 April 2013
REFLEKSI KEHIDUPAN
Lisda Kania Yuliani

Aku merasa hidupku telah sempurna
Aku memiliki semua hal yang aku impikan
Hidup yang kujalani memang bagaikan impian
Semuanya terasa indah dan membuatku terlena

Saat ku butuhkan apapun, semuanya tersedia 
Saat ku inginkan apapun, dengan mudah tinggal ku acungkan telunjukku
Aku bebas melakukan apapun sesukaku
Aku bebas memiliki apapun semauku
Aku bebas! Ya! Aku bebas!

Orangtua yang abai, tak ku jadikan sebagai beban
Karena dengan cara merekalah aku bisa bebas, sangat bebas!
Karena kebebasan itu, aku bertingkah... aku berulah...
Karena kebebasan itu, Agama tak lagi kujadikan pertimbangan
Dunia malam, obat-obatan dan minuman terlarang
Semua itu masuk ke dalam diri yang selalu menginginkan kebebasan

Aku tergiur oleh ucapan manis orang-orang yang kuanggap teman
Tanpa sadar, selangkah demi selangkah aku abaikan aturan Sang Pencipta
Aku jauh... menjauh... dan semakin jauh dari-Nya...
Tapi entah apa yang terjadi pada diriku suatu hari...

Aku bercermin, dan kudapati... betapa kelamnya hidup yang kujalani
Betapa hancurnya diri ini... kusadari, kebebasanlah yang membuatku begini
Aku malu... aku sangat malu...
Ku coba berjalan meniti lembaran baru, walau harus terjatuh dan terjatuh lagi
Aku tertatih, mencoba meraih angan untuk kembali pada Sang Illahi Rabbi
Ku merangkai hari demi hari dengan langkah baru
Ku tinggalkan serpihan-serpihan kelam dengan langkah yang lebih baik
Hingga kudapati penyebab kekelamanku yang juga teralami oleh banyak orang

Demokrasi. Ternyata itulah penyebab semua kehancuran ini
Bukan hanya aku, tapi juga mereka... mereka... dan mereka
Tapi ku yakin, pasti ada jalan untuk merubah ini semua

Akupun mencari, hal besar apa yang mampu merubah ini semua?Memperbaiki kehancuran yang saat ini terus menerus terjadi
Dan mencabut demokrasi yang hancur ini hingga akarnya

Ku hadiri kajian demi kajian Islam, ku datangi orang-orang yang memahami Islam
Hingga aku mendapat jawaban dari pertanyaan besarku

Khilafah Islamiyah...
Sistem pemerintahan agung yang mampu menciptakan perubahan besar dunia
Terbukti dengan 13 abad, 2/3 dunia sejahtera di bawah naungannya

Karena saat ini kusadari, yang dibutuhkan adalah kembali pada Allah
Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur 
Untuk itu, marilah kita sama-sama berjuang
Berjuang demi melanjutkan kembali kehidupan Islam
Melalui penerapan al-Qur’an dan as-Sunah dalam setiap aspek kehidupan
Untuk satu bendera, satu umat, dan satu institusi negara...
Bernama Khilafah Islamiyah ‘ala manhaji nubuwwah

Allahu Akbar!

KAPITALISME BIANG PELECEHAN SEKSUAL

Jumat, 08 Maret 2013
     Lagi, pelecehan seksual terhadap remaja terjadi. Seorang remaja putri yang masih berstatus pelajar SMA mengalami pelecehan seksual oleh Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berada di daerah Jakarta Timur. Awalnya pelaku mengajak korban untuk jalan-jalan, namun ternyata pelaku melakukan pelecehan seksual kepada korban pada pertengahan tahun 2012 lalu. Setelah pemaksaan itu, korban diberikan uang sebesar Rp 50.000,- untuk ongkos pulang dan uang tutup mulut. Korban juga sempat diancam kalau sampai hal ini bocor, pelaku tidak akan mengeluarkan nilai dan ijazah korban (MetroTV News).

        Maraknya kejadian pelecehan seksual tidak lepas dari lingkungan dimana kejahatan terus menerus terjadi dan berulang. Seperti kejadian yang menimpa siswi SMA yang dilecehkan oleh Wakaseknya sendiri. Ini membuktikan bahwasannya lingkunganlah yang mendorong tumbuh dan berkembangnya kejahatan. Kasus pelecehan seksual yang marak terjadi memang bukanlah masalah tunggal yang mengharuskan penyelesaiannya hanya dengan menghukum pelaku. Akan tetapi, kasus ini merupakan kasus yang kompleks dan merujuk pada sistem, dimana harus diselesaikan bukan hanya dengan menghukumi pelaku tapi juga harus memperhatikan faktor penyebab lain yang mendorong berulangnya kasus serupa. Harus diperhatikan bahwa kejadian seperti ini berawal dari beberapa faktor, dimulai dari banyaknya perempuan yang berpakaian minim dan enggan menutup aurat, tayangan televisi dan media elektronik yang menyuguhkan berbagai adegan seks, juga dengan maraknya gambar, film dll yang semuanya dapat menimbulkan rangsangan seks yang kuat. Faktor-faktor inilah yang mempengaruhi terjadinya tindakan pelecehan seksual.


       Seluruh faktor tersebut adalah dampak sistem kapitalis yang saat ini diterapkan. Sistem kapitalis membentuk kebebasan bertingkah laku dan berekspresi, sehingga banyak perempuan yang enggan menutup aurat dan bebas berbaur dengan laki-laki, pada akhirnya inilah yang mendorong syahwat laki-laki yang melihatnya. Begitu pula dengan kebebasan penayangan adegan-adegan panas di televisi maupun media elektronik lainnya, ini pun berdampak besar pada terangsangnya naluri seks dan akhirnya tindakan pelecehan seksual pun dilakukan karena didorong oleh rangsangan-rangsangan ini. Maka tindakan pelecehan seksual ini sekali lagi bukan hanya permasalahan individual tapi ini merubahan permasalahan yang sistemik. 

     Sayangnya peran negara dan pemerintah belum terlihat. Berbagai solusi yang ditawarkan pun masih berupa solusi yang bersifat parsial dan individual. Hanya dengan menghukumi pelaku, tentu saja kasus yang sama pasti akan berulang. Seharusnya negara memahami bahwa seluruh permasalahan ini bersumber dari kesalahan sistem yang saat ini diterapkan. Sistem kapitalis yang berasaskan sekuleristik –memisahkan agama dari kehidupan- telah merusak moral masyarakat. Keyakinan akan kebebasan dan tidak adanya pondasi agama dalam diri masyarakat telah membuat mereka tidak takut untuk melakukan perbuatan maksiat. Aturan yang dibuat manusia secara nyata telah merusak masyarakat dan banyak menimbulkan permasalahan.

     Inilah indikasi bahwasannya setiap aturan yang dibuat oleh manusia akan berujung pada kerusakan. Karena itulah, tidak ada lagi alasan untuk tetap mempertahankan aturan yang dibuat manusia. Solusi satu-satunya untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan kembali pada aturan Allah. Menghukumi segala permasalahan hanya berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Serta menjadikan aqidah Islam sebagai pondasi dalam setiap perbuatan. Saatnya kita kembalikan setiap aturan berdasarkan pada apa yang telah Allah turunkan dengan cara menegakkan institusi yang bisa menerapkan aturan Allah secara kaaffah, yaitu Khilafah rasyidah ala min haji nubuwwah. 

Wallahu ‘alam bish shawab.

VALENTINE’S DAY: PERAYAAN KASIH SAYANG BERBALUT NAFSU

Rabu, 13 Februari 2013


14 februari, tanggal yang rupanya saat ini sedang menghipnotis kaula muda alias remaja. Demam merah muda dimana-mana. Boneka, coklat, bunga mawar dan berbagai asesoris berunsurkan merah muda laku dipasaran. Valentine’s Day, begitulah remaja menyebutnya. Hari yang identik dengan rasa cinta pada pasangan. Budaya Valentine’s Day saat ini memang sudah sangat luar biasa, banyak tempat perbelanjaan khusus pada tanggal ini merubah tampilan mereka menjadi serba merah muda. Begitupun dengan berbagai tayangan televisi, yang diantaranya banyak juga yang menambah nama program mereka dengan embel-embel “Spesial Valentine”.
Mirisnya, karena berbagai propaganda Valentine’s Day yang selalu ditayangkan media, remaja Muslim pun pada akhirnya terhipnotis untuk merayakan hari ini. Padahal peringatan ini sama sekali bukan dari Islam, semestinya  remaja Muslim memahami bahwa Valentine’s Day tidak layak untuk diperingati sama sekali. Terlebih lagi, banyak fakta yang memberitakan pada hari Valentine’s Day ini banyak remaja yang melakukan aktivitas-aktivitas yang bertentangan dengan aturan Islam. Seperti halnya berpacaran, ciuman, bahkan banyak yang sampai melakukan seks bebas. Ini dibuktikan dengan melonjaknya omset penjualan kondom di mana-mana. Tempat penginapan, hotel, perjalanan wisata sudah jauh-jauh hari di-booking oleh pasangan muda-muda dan orang dewasa yang mau melewatkan malam Hari Valentine’s Day bersama ‘pacar’ atau pasangannya (http://gayahidup.inilah.com / (13/2)).
Hal ini membuktikan bahwa momentum Hari Valentine betul-betul secara nyata telah dijadikan sebagai ‘wahana’ seks bebas. Makadari itu, kurang tepat rasanya jika Valentine’s Day disebut sebagai hari kasihsayang karena hari ini identik dengan perasaan cinta yang berbalut nafsu. Acara Valentine’s Day mengantarkan seseorang kepada berbagai bentuk maksiat dan yang paling besarnya adalah bentuk perzinaan. Bukankah momen seperti ini (Valentine’s Day) digunakan untuk meluapkan perasaan cinta kepada sang kekasih, baik dengan cara memberikan hadiah, menghabiskan waktu hanya berdua saja? Bahkan sampai kepada jenjang perzinaan. Padahal Allah swt telah melarang zina dan pengantarnya (seperti, pacaran, berduaan, berpegangan, berpandangan, dan lainnya),
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32)
Namun saat ini, walaupun banyaknya larangan untuk merayakan Valentine’s Day dilontarkan, tetap saja banyak remaja Muslim yang memperingati hari yang bisa mengancam aqidah seorang Muslim dan juga menghantarkan pada hancurnya generasi Muslim ini. Pemerintah yang abai dengan permasalahan remaja dan senantiasa ‘membebaskan’ remaja seakan memfasilitasi remaja untuk semakin bebas dalam bertingkah laku. Hukum yang lemah pun nampaknya tidak menimbulkan rasa takut dalam diri remaja untuk  melakukan berbagai maksiat dan kriminalitas. Berbagai kekacauan ini nyatanya memang hasil dari penerapan liberalisme dan berbagai aturan buatan manusia. Maka satu-satunya solusi untuk menhentikan kemaksiyatan yg dilakukan remaja adalah dengan penerapan Islam secara kaffah. Penerapan Islam akan memberikan hukuman yg tegas bagi para pelaku zina sehingga membuat mereka jera dan tercegah melakukan kemaksiyatan. Pun penerapan Islam akan mengkondisikan lingkungan agar sesuai dengan syariat Islam, remaja tidak dibiarkan bebas melakukan kemaksiyatan. Tentunya semua itu membutuhkan kesadaran tentang pentingnya penerapan Islam. Oleh karena itu marilah sahabat-sahabat kita jauhi ide-ide kebebasan, segera pahami Islam dan amalka serta perjuangkan Islam agar bisa diterapkan dalam kehidupan kita. (Lisda Kania Yuliani – Sisi SMKN 11 Bandung)