
Beberapa minggu ini, media pemberitaan dihebohkan kembali dengan aksi anarkis para geng motor yang membuat resah warga di berbagai daerah di Indonesia. Geng-geng motor ini biasa melakukan tindak kekerasan dan pengrusakkan pada malam hari, sehingga tiap malam warga merasa tercekam dan tidak bisa keluar di malam hari karena ketakutan dengan aksi brutalisme gerombolan geng motor. Selain melakukan berbagai kekerasan dan pengrusakkan fasilitas umum, geng motor ini pun biasa melakukan balap liar dan penyerangan yang banyak menimbulkan korban jiwa. Di daerah Jakarta dan sekitanya, menurut Indonesia Police Watch (IPW) ada sekitar 80 titik lokasi ajang balap liar. IPW pun mencatat bahwa sejak tahun 2009 hingga kini, ada 195 orang yang tewas akibat balap liar yang dilakukan oleh gerombolan geng motor yang rata-rata masih berusia remaja ini. Selain itu, geng motor inipun tak jarang melakukan penyerangan yang banyak menimbulkan korban jiwa, bahkan banyak diantara korban adalah orang yang tak berdosa. Aksi demi aksi yang dilancarkan oleh geng motor ini nyatanya tidak disikapi dengan tegas oleh pihak kepolisian, hingga permasalahan ini tidak kunjung selesai dari tahun ke tahun dan malah semakin bertambah. Yang lebih disayangkan adalah, anggota dari geng motor ini mayoritas terdiri dari remaja. Bukan hanya remaja laki-laki, tapi juga remaja perempuan pun banyak juga yang menjadi anggota geng anarkis ini. Permasalahan yang terjadi ini tentu saja tidak lepas dari diterapkannya sistem kapitalisme sekuler, sebuah sistem yang memisahkan aturan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, remaja yang melakukan berbagai kejahatan sosial sering hanya dikategorikan sebagai kenakalan remaja dan akhirnya banyak pemakluman. Hingga dengan banyaknya pemakluman ini, membuat banyak remaja tidak merasa jera dan tidak takut mengulang kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan. Padahal jika kita lihat dalam Islam, Sistem Pendidikan Islam mengarahkan para ramaja untuk menjadi seseorang yang memiliki kepribadian Islam dan terampil juga dalam bidang sains dan teknologi. Remaja yang dididik oleh Sistem Pendidikan Islam tentu akan tertanami oleh akidah Islamiyah dan ketakwaan kepada Allah SWT, hingga mereka mengetahui bahwa tujuan hidup mereka hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Islam juga memberikan sanksi yang tegas bagi para pelaku tindak kriminal sesuai kejahatannya. Tentu ini sangat bertolak belakang dengan sistem demokrasi yang kini sudah nampak jelas kebobrokannya dan perlahan menghancurkan remaja-remaja yang merupakan generasi penerus. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan generasi penerus ini adalah dengan cara menerapkan Syariah Islam secara keseluruhan dalam bingkai sistem Khilafah alaa minhaji nubuwwah. Wallahu a’lam bi shawab. [Lisda]





0 komentar:
Posting Komentar